Kamis, 24 Mei 2018

REFLEKSI TAHUN PERTAMA : MENGAWALI GORESAN PENA KEHIDUPAN



9 Ramadhan 1438 H., tepat saat putri kami diizinkan oleh Allah melihat dunia. Kini, 9 Ramadhan 1439 H., dia genap berusia 1 (satu) tahun. Bagi kami selaku orang tua, bertambahnhya usia anak, bertambah pula tanggungjawab dalam mengasah, asih dan asuh-nya. Tanggung jawab alimentasi yang secara hukum melekat pada orang tua terhadap anak perlu dimaknai mendalam dari berbagai sudut pandang.

Secara yuridis, anak di bawah umur berada pada tanggungan orang tua. Demikianlah hukum kita mengatur. Ketentuan ini juga dijiwai dari nilai-nilai bangsa Indonesia yang mengedepankan adat ketimuran (khususnya pendekatan keagamaan sebagai salah satu sumber moral yang mutlak kebenarannya), termasuk pula berlaku untuk kami (orang tua). Kepatuhan pada hukum yang berlaku bagi kami juga bukan sekedar kepatuhan karena ada paksaan maupun tekanan. Kepatuhan terhadap hukum positif dilandasi sikap sukarela dan menjunjung tinggi asas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sudut pandang agama (Islam), mewajibkan setiap orangtua untuk mendidik dan memberikan ruang kebebasan berinteraksi sosial kepada anak. Terpenting bagi kami, bagaimana anak ini kelak memiliki dedikasi yang tinggi terhadap agama dan negara. Dedikasi terhadap agama diawali dengan pendidikan dasar yang sejak dini memang ditakdirkan oleh Allah terlahir dalam dunia Pesantren. Sedangkan pendidikan kenegaraan, bagi kami merupakan cara kami memberikan jaminan penuntasan pendidikan formal baginya. Kolaborasi pendidikan agama dan pendidikan formal Insyaallah mampu menciptakan Sumber Daya Manusia, generasi bangsa Indonesia yang unggul dan berakhlakul Karimah.

Raden Ajeng Hemas Kusumaning Nagari. Nama yang tidak sekedar penghias panggilan. Nama ini mengandung sejarah yang tidak habis jika diceritakan dalam bentuk tulisan. Nama ini pula mengandung do'a yang diharapkan terpatri dalam jiwa dan sanubari putri kami tersebut. Raden Ajeng merupakan gelar melekat trah ndalem Karaton. Kami tidak bermaksud menunjukkan bahwa kami masih memiliki darah keturunan Karaton. Penggunaan gelar ini sesungguhnya adalah media silaturrahim. Menggunakan nama bergelar Karaton secara tidak langsung menunjukkan bahwa dia tidak sendirian, minimal jika bertemu dengan orang lain yang menggunakan gelar serupa, cukup mengindikasikan bahwa mereka adalah Saudara kita. Inilah maksud yang dikehendaki oleh Karaton dengan mewajibkan para Kerabat Sentono Ndalem untuk tetap menggunakan dan tidak menanggalkan gelar tersebut. Sebab gelar ini adalah gelar keturunan yang layak digunakan.

Kusumaning Nagari mengambil dari kosakata bahasa jawa. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Kusumaning Nagari bisa berarti Pahlawan Nasional, bisa juga berarti orang yang dapat mengharumkan nama bangsa. Kelak, kami berharap putri kami menjadi anak yang dapat berjasa pada negara. Anak yang dapat mengharumkan nama bangsanya. Anak yang tidak mengharapkan balas jasa terhadap apa yang dia perbuat bagi bangsa dan negaranya. Biarlah mereka yang memiliki paradigma berbeda tetap melanjutkan karakter dan garis hidupnya, namun bagi ananda, berpaling dari ajaran yang telah digariskan merupakan pembangkangan dari Sunnatullah. Waalhaqna bihim dzurriyyatahum. kacang ora bakal ninggal lanjaran, sedangkan lanjaran leluhur menggariskan untuk berbuat ikhlas pada bangsa dan negara.

Kami sadar, Allah memberikan seorang putri bagi kami. Sebagai orangtua, kewajiban terhadap putri berlangsung hingga mengantarkan dia ke jenjang pernikahan. Kami pun harus siap mental manakala kelak putri kami tersebut telah kami 'ijab' kan dengan penuntun kehidupannya. Jika sudah menjadi istri, maka kewajiban taatnya lebih prioritas kepada suami dibanding kepada orangtuanya (kami).

Tulisan ini bukan berarti apa pun, namun kelak jika anak kami telah dewasa, Insyaallah membaca tulisan ini bisa mengenang bagaimana orangtuanya mengharapkan yang terbaik bagi anak pertamanya. Semoga di Bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, genap berusia satu tahun pula, segala permohonan terbaik kita untuk anak-anak kita diijabahi oleh Allah Yang Maha Kuasa.

Tidak ada komentar:
Write komentar