Jumat, 12 Oktober 2018

ADA APA DENGAN PLN?


Semoga hanya saya saja yang berpikir ‘nakal’ padanya. Belakangan, tak jarang dan bahkan berulang kali terjadi pemadaman. Kalau orang ndeso seperti saya singkat menyebutnya ‘total’ alias mati total. Pemadaman yang terpusat oleh PLN. Demikian kira-kira. Kalau salah mohon dikoreksi. 

Semua pasti ada hikmah. Insyaallah saya pun setuju dengan statement ini. Pemadaman, akhirnya juga berhikmah bagi saya untuk berpikir. Betapa peradaban sudah menggeser kebiasaan. Saat kecil, bermain di tengah kegelapan sudah menjadi keseharian. Tanpa mengeluh bahkan merasa susah. Bahkan, ketika lagu “Padang Mbulan” dinyanyikan di tengah kegelapan, sungguh terdengar sangat merdu dan mengasyikkan. 

Kini, pasokan tenaga listrik melalui PLN sudah menjadi “Kebutuhan yang amat primer”. Hampir mayoritas aktivitas masyarakat membutuhkan asupan tenaga listrik. Masyarakat ‘tersita’ akan kebutuhan berbau teknologi elektronik. Salahkah? Itulah pergeseran peradaban. 

Hingga ada suatu cerita, saat itu saya sedang berada di kota. Tiba-tiba istri saya, Adna Khoirotul A'yun berkirim pesan WA kepada saya : “Bah, listrik padam sudah hampir satu jam tak kunjung menyala”. Lantas, saya berupaya menghubungi personil yang bekerja di PLN. Kebetulan ada saudara yang disana (sengaja disensor namanya, semoga tidak komentar. He he ). Menurut keterangannya, ada kendala di gardu induk paiton, sehingga dilakukan pemadaman bergilir. (Padahal) saat itu, listrik di kota juga tidak padam. 

Saking penasarannya, suatu saat saya bertemu dengan beliau. Saya tanyakan hal yang sama padanya. Jawabannya pun sama. Lantas saya tanya lagi, mengapa yang ‘dipadamkan’ hanya di desa? Wong di kota tidak padam. Beliau jawab, di kota prioritas karena sentra perekonomian disana, sehingga tidak terdampak pemadaman yang signifikan. Saya berharap jawaban ini subyektif dari beliau. 

Atas jawaban itu, saya lontarkan sanggahan, kalau faktor ekonomi, apakah di desa tidak menjalankan aktivitas ekonomis? Bukankah PLN itu kepanjangan dari Perusahaan Listrik Negara dan bukan Perusahaan Listrik orang Kota ya? Apalagi di desa lebih banyak penduduknya dibanding kota. Kalau masalah bayar, baik orang desa maupun orang kota kalau tidak bayar listrik ya sama-sama dipadamkan kok. Haruskah dibedakan? Adil? 

Bagaimana jawab beliau? Disensor ya... hehe. Setidaknya sebagai bahan evaluasi saja, khususnya bagi corporate yang sengaja didedikasikan oleh negara pada bidang pelistrikan. Aspek penting selain profit bagi BUMN adalah pelayanan. Profesionalitas dalam memberikan pelayanan yg merata bagi rakyat, bukan hanya orang kota. Diambil dari status Facebook Gus Maya https://ift.tt/2ISkSFs

Tidak ada komentar:
Write komentar