Senin, 15 Oktober 2018


Masak dan makan bersama-sama dalam satu ‘nampan’ atau yang lazim disebut ‘liwetan’, bukan merupakan hal yang aneh bagi santri. Bahkan sudah menjadi ciri khas santri saat berada di pondok pesantren. Liwetan sering diidentikkan dengan tradisi ‘santri kuno’ yang tidak bisa dilepaskan dari kedudukannya.

Maka tidak jarang, santri dulu saat berangkat dari rumah selalu dibekali beras, bumbu dan sayur-sayuran, disamping bekal bawaan untuk dihaturkan kepada Kyai. Wali santri jaman dulu pun sama. Saat ‘sambang’ (menjenguk) anaknya di pesantren, dari kejauhan sudah kelihatan membawa ‘kantongan’ berisi beras. Kadang juga dipikul.

Nuansa semacam ini seakan mulai luntur. Jarang sekali dijumpai santri ketika datang dari rumah membawa kantongan berisi beras. Demikian halnya dengan orang tua. Saat sambang, mereka pun tak nampak berbondong-bondong dengan barang bawaan di karung.

Sebenarnya ada sisi positif santri dengan ‘liwetan’ yang menjadi ciri khas kesehariannya. Meskipun sebagian kalangan menganggap ketinggalan zaman (kuno) dan merepotkan, namun hakikatnya melalui media ‘liwetan’ santri digembleng untuk hidup mandiri. Hidup yang siap berdiri sendiri saat nantinya terjun di masyarakat. Tidak menggantungkan dan merepotkan pihak lain.

Orang Jawa lazim merumuskan kebutuhan primer manusia dengan sandang, pangan dan papan. Kebutuhan primer ini oleh pesantren berusaha ditransformasikan kepada santri melalui beragam cara. Sandang, santri saat di pesantren mau tidak mau mencuci dan menyiapkan baju sendiri. Pangan, ada tradisi santri berupa ‘liwetan’. Sedangkan papan, di dunia pesantren, tempat pemondokan (gotha’an) mutlak menjadi tanggung jawab masing-masing santri dalam hal kebersihan maupun keamanannya.

Nilai-nilai kemandirian ini terlihat mulai bergeser. Inilah yang saya rasakan. Kebetulan saya sejak lahir juga sudah bersentuhan dengan dunia santri, sehingga dapat membandingkan. Kini, baik orang tua maupun santri lebih bangga jika dari rumah tidak membawa bekal kantong beras. Mereka menilai lebih praktis dengan membawa bekal amplop berisi uang.

‘Liwetan’ bahkan mulai tak lagi dikenal. Santri sekarang lebih kenal ‘indekos’ untuk urusan makan daripada masak sendiri. Padahal zaman dulu, sebelum kompor populer, setiap akan ‘ngeliwet’, para santri harus bersusah payah mencari kayu bakar. Beruntung jika musim kemarau. Kalau musim penghujan, mencarinya pun tak gampang.

Lebih aneh lagi saat ada orangtua datang, pasrah kepada Kyai, namun urusan makan anaknya diupayakan indekos. Tidak ‘ngeliwet’. Alasannya supaya tidak merepotkan anak. Supaya anak lebih konsentrasi belajar agama. Begitulah kira-kira yang sering terdengar. Tidakkah mereka sadar jika pembelajaran agama di pesantren sudah sejak sekian tahun lamanya. Kurikulum dan media pembelajaran juga tetap. Bedanya, santri dulu ngeliwet sekarang tidak.

Meskipun demikian, santri dulu tak sedikit yang ‘ngalim’ di bidang agama. Bahkan banyak yang ketika lulus dari pesantren juga memiliki santri dan pondok. Secara ekonomi pun kecukupan (tidak kekurangan).

Ada makna emansipasi dalam ‘liwetan’. Tidak melulu hanya dilakukan oleh santri putri saja. ‘Liwetan’ bahkan kental dengan santri putra. Santri putra yang sudah lulus dan beristri, tidak sedikit yang tidak canggung kala berhubungan dengan urusan dapur. Sebaliknya, santri putri yang saat di pesantren sudah terbiasa dengan tradisi ‘liwetan’, tidak canggung saat harus mengemban amanah sebagai ‘komandan’ dapur di dalam kehidupan rumah tangga.

Kebersamaan saat makan hasil ‘liwetan’ juga menunjukkan betapa nuansa persaudaraan antar santri terjalin. Meski hanya berlauk sederhana, rasanya hasil ‘liwetan’ mengalahkan restoran berbanderol mahal sekalipun. Menerima apa adanya. Tidak neko-neko.

Proses ngeliwet yang njelimet juga melatih kedisiplinan santri. Para santri harus bisa mengatur sebaik mungkin agar ngeliwet dan ngaji tidak saling berbenturan. Itupun mengandung makna yang dalam jika diurai. Kini, meskipun masih ada santri yang ngeliwet, jumlahnya tidak sebanyak zaman dulu. Bahkan tidak jarang, santri putri kini tidak mahir masak hanya gara-gara tidak terbiasa ngeliwet saat di pesantren.

'LIWETAN', TRADISI SANTRI YANG TERLUPAKAN

Jumat, 12 Oktober 2018


Semoga hanya saya saja yang berpikir ‘nakal’ padanya. Belakangan, tak jarang dan bahkan berulang kali terjadi pemadaman. Kalau orang ndeso seperti saya singkat menyebutnya ‘total’ alias mati total. Pemadaman yang terpusat oleh PLN. Demikian kira-kira. Kalau salah mohon dikoreksi. 

Semua pasti ada hikmah. Insyaallah saya pun setuju dengan statement ini. Pemadaman, akhirnya juga berhikmah bagi saya untuk berpikir. Betapa peradaban sudah menggeser kebiasaan. Saat kecil, bermain di tengah kegelapan sudah menjadi keseharian. Tanpa mengeluh bahkan merasa susah. Bahkan, ketika lagu “Padang Mbulan” dinyanyikan di tengah kegelapan, sungguh terdengar sangat merdu dan mengasyikkan. 

Kini, pasokan tenaga listrik melalui PLN sudah menjadi “Kebutuhan yang amat primer”. Hampir mayoritas aktivitas masyarakat membutuhkan asupan tenaga listrik. Masyarakat ‘tersita’ akan kebutuhan berbau teknologi elektronik. Salahkah? Itulah pergeseran peradaban. 

Hingga ada suatu cerita, saat itu saya sedang berada di kota. Tiba-tiba istri saya, Adna Khoirotul A'yun berkirim pesan WA kepada saya : “Bah, listrik padam sudah hampir satu jam tak kunjung menyala”. Lantas, saya berupaya menghubungi personil yang bekerja di PLN. Kebetulan ada saudara yang disana (sengaja disensor namanya, semoga tidak komentar. He he ). Menurut keterangannya, ada kendala di gardu induk paiton, sehingga dilakukan pemadaman bergilir. (Padahal) saat itu, listrik di kota juga tidak padam. 

Saking penasarannya, suatu saat saya bertemu dengan beliau. Saya tanyakan hal yang sama padanya. Jawabannya pun sama. Lantas saya tanya lagi, mengapa yang ‘dipadamkan’ hanya di desa? Wong di kota tidak padam. Beliau jawab, di kota prioritas karena sentra perekonomian disana, sehingga tidak terdampak pemadaman yang signifikan. Saya berharap jawaban ini subyektif dari beliau. 

Atas jawaban itu, saya lontarkan sanggahan, kalau faktor ekonomi, apakah di desa tidak menjalankan aktivitas ekonomis? Bukankah PLN itu kepanjangan dari Perusahaan Listrik Negara dan bukan Perusahaan Listrik orang Kota ya? Apalagi di desa lebih banyak penduduknya dibanding kota. Kalau masalah bayar, baik orang desa maupun orang kota kalau tidak bayar listrik ya sama-sama dipadamkan kok. Haruskah dibedakan? Adil? 

Bagaimana jawab beliau? Disensor ya... hehe. Setidaknya sebagai bahan evaluasi saja, khususnya bagi corporate yang sengaja didedikasikan oleh negara pada bidang pelistrikan. Aspek penting selain profit bagi BUMN adalah pelayanan. Profesionalitas dalam memberikan pelayanan yg merata bagi rakyat, bukan hanya orang kota. Diambil dari status Facebook Gus Maya https://ift.tt/2ISkSFs

ADA APA DENGAN PLN?

Rabu, 10 Oktober 2018


Tulisan ini sebenarnya lebih banyak dilatarbelakangi dari aspek geografis penulis. Hidup di pedesaan, berada di atas pegunungan dan di tengah hutan. Kehidupan seperti itu telah berjalan puluhan tahun lamanya. Bahkan ketika pertama kali menghirup oksigen pun, bergantung pada hasil produksi hutan.

Demikian berharganya hutan dalam kehidupan penulis, mungkin juga manusia pada umumnya. Bahkan sempat berandai, adakah mata pelajaran komunikasi dengan hutan? Sepertinya selama ini hanya diam. Benarkah? 
Bukankah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada Tuhan? Tidakkah itu pun bentuk komunikasi? Makhluk dengan Sang Khaliq.
Sebaliknya, apakah selama ini hutan juga memahami apa yang dikomunikasikan oleh manusia, bagaimana sikap manusia dan perlakuan apa yang diperbuat manusia pada hutan? Wallahu A’lam. Sejauh yang diketahui manusia, meski tidak berkomunikasi secara langsung pun, hutan tetap berkirim pesan.

Berkali-kali manusia diingatkan. Kebakaran hutan, gunung meletus, tanah longsor, banjir bandang, dan sebagainya bukankah juga berhulu di hutan? Mungkinkah itu bentuk ‘sentuhan mesra’ hutan pada segenap insan yang acuh padanya? Semoga tidak lebih dari itu. Meski semuanya bergantung pada kehendak Allah, Pemilik alam semesta. Namun di antara peristiwa-peristiwa itu pasti tersirat pesan.

Kiranya tidaklah etis, menyebut ‘sentuhan mesra’ hutan dengan anggapan ‘bencana’. Apalagi sedikit nada kasar yang justru mendiskreditkan alam sebagai penyebab bencana. Menyalahkan alam yang kita pun tak paham bahasanya, bahwa bencana datang alamiah, karena alam pada konfigurasinya pada masa meluapkan sikap yang (merugikan) kehidupan manusia. Begitukah sikap ksatria? Tidakkah kala kecil selalu kita diajarkan untuk saling hormat, menghargai atas segala apa yang diperbuat pihak lain kepada kita? Tidakkah hutan juga telah berbaik sangka pada kita?
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat ulah tangan manusia. 
Mengapa Allah dalam Firman Nya tegas menyebutkan manusia? Tidak binatang, tumbuhan atau makhluk lain selain manusia. Sedikit refleksi, sesungguhnya akal budi yang telah Allah berikan kepada manusia sepatutnya didayagunakan dalam hal demikian.
[ads-post]

Dewasa ini, ‘parodi’ pengeroyokan hutan nyata-nyata dipertontonkan kepada segenap manusia. Lebih tepat khalayak ramai bangsa Indonesia. Pepohonan yang saat penulis kecil tak sedikit menjumpai dengan ukuran raksasa, kini pun menjadi barang langka yang mahal harganya. Hutan hanya dinilai komoditas, tidak diposisikan sebagai entitas yang sama-sama memiliki jati diri sebagai sesama makhluk Tuhan.
Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. 
Firman Allah yang tidak hanya untuk manusia. Berlaku bagi semua makhluk, termasuk hutan. Menjaga diri dari ancaman kerusakan akibat ulah manusia pun bentuk ketaatan hutan atas perintah Tuhan. Salahkah? Akal waras, manusiawi, pasti bereaksi. Jika kebaikan dibalas dengan keburukan, kerusakan. Jangankan berpikir balas budi, berbuat baik pun tak dilakukan. 
Semoga, sedikit literasi ini menjadi refleksi.

RELASI TIMPANG MANUSIA, HUTAN DAN TUHAN